Sabtu, 23 Januari 2010

Saldi Isra, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis


Saldi, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis

Oleh Yurnaldi

Sumatera Barat atau Ranah Minangkabau itu gudang pemikir dan intelektual nasional yang mumpuni dan diperhitungkan, orang sudah tahu. Sejarah bangsa ini, telah mencatat banyak nama. Dan pada suatu massa di zaman Orde Baru, sudah mulai terjadi krisis pemikir yang sekaligus penulis. Tak banyak lagi nama-nama yang mencuat ke permukaan secara nasional. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari
Ketika saya mulai bergabung di Kompas, tahun 1995, saya mendapat pertanyaan, apa tak ada lagi orang semacam Hendra Asmara dan AA Navis di Sumatera Barat? Hendra Asmara dikenal secara nasional karena ia ekonom yang penulis dan sering jadi narasumber untuk persoalan ekonomi bangsa. Pemikirannya sangat disegani, bernas, cerdas, dan mencerahkan. Begitu juga AA Navis, ia dikenal tidak saja sebagai sastrawan, tetapi juga budayawan.
Mendapat pertanyaan itu, saya seolah ditantang; kalau memang ada silakan dorong dan orbitkan. Kompas sangat terbuka bagi mereka.
Dalam perjalanan, hanya di bidang kesusastraan agak banyak penulis dan pemikir yang muncul dari Sumatera Barat. Menyebut sejumlah nama, misalnya, ada Mursal Esten, Harris Effendi Thahar, Hasanuddin WS, Darman Moenir, Gus tf Sakai, dan Yusrizal KW. Bidang kesejarahan ada Mestika Zed.
Sedangkan di bidang lain, boleh dikata tidak ada. Ketika ada suatu isu, mereka tidak siap memberikan pandangan dan pemikirannya. Kepakarannya belum teruji. Alasan yang selalu dikemukakan, “Saya belum tahu. Saya belum membaca. Buat pertanyaan tertulis, nanti saya jawab”.
Beda dengan seorang Saldi Isra. Di usia mudanya ia sudah menunjukkan kepakarannya. Ia sangat menguasai isu terkini dan selalu ada pemikiran yang orisinal darinya. Ia sering menulis di Koran daerah di Padang, sejak mahasiswa.
Tak ingat kapan pertama kali bertemu dengan Saldi. Akan tetapi untuk pertama kali ia saya jadikan narasumber adalah ketika heboh kasus ‘korupsi berjemaah’ di Sumatera Barat. Judul berita dengan narasumber Saldi waktu itu “Cacat Hukum, Pengesahan APBD Sumbar” (Kompas, 2 Februari 2002, halaman 19). Berlanjut kemudian “APBD Sumatera Barat 2002 Boros” (Kompas, 6 Februari 2002, halaman 20), “Lagi, Dana Aspirasi DPRD Sumbar Rp11 Miliar” (Kompas, 7 Februari 2002, halaman 19), dan “Diduga Melakukan Korupsi: Seluruh Anggota DPRD Sumbar Dilaporkan Kekejaksaan” (Kompas, 12 Februari 2002, halaman 20). Setelah itu Saldi tak putus-putusnya jadi narasumber Kompas.
Nama Saldi mencuat, sejalan dengan mencuatnya kasus korupsi yang heboh secara nasional itu. Gerakan sosial melawan korupsi yang dilakukan Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB) di tahun 2002. Dia salah satu –tanpa menafikan sejumlah nama lain—nama yang cukup mencuat, apalagi Saldi Isra ketika itu menjadi koordinatornya.
Saldi tak hanya jadi narasumber yang selalu siap bila berhadapan dengan wartawan. Jauh sebelumnya, menjelang gerakan reformasi, Saldi sudah menulis di pemikirannya di harian Kompas. Opini Saldi Isra pertama kali dimuat judulnya “Saatnya, Perbaikan Tap MPRS No XX/1966” (Kompas, 14 Januari 1998, halaman 5). Kemudian opini “Wakil Presiden Jadi Ketua DPA? Tanggapan untuk G Moedjanto” (Kompas, 4 Maret 1998, halaman 5). Opini ketiga lahir tiga tahun kemudian, yaitu “Sekitar Pengisian Jabatan Wakil Presiden” (Kompas, 25 Juli 2001, halaman 4).
Hingga tulisan ini dibuat, 22 Januari 2010, Saldi Isra telah menulis 113 opini di harian Kompas. Terakhir berjudul “Menunggu Giliran SBY” (Kompas, 21 Januari 2010, halaman 4).
Kalau tidak salah, tahun 2008, Saldi Isra tercatat sebagai penulis paling produktif di harian Kompas. Bahkan, hingga Januari 2010, sudah 248 kali menjadi sumber berita Kompas.

Rendah hati, mau bertanya
Saldi Isra termasuk penulis dan dosen yang rendah hati dan mudah bergaul. Dia selalu menyediakan dirinya buat wartawan. Dengan saya, Saldi sempat diskusi beberapa kali. Topik cerita soal menulis artikel dan ide-ide yang bisa diangkat. Intinya saling memotivasi. Saya berharap ada penulis, inetelektual Sumbar yang disegani, muncul di pentas nasional. Saldi Isra saya cermati, sepertinya bisa diharapkan.
Saldi mungkin masih ingat kiat-kiat yang sempat saya berikan. Misalnya, bagaimana memberikan opini yang masih aktual dengan memberitakan tanggapan terhadap opini seseorang. Tentunya harus dibarengi dengan argumentasi yang bernas, gagasan orisinal, dan solusi yang kadang tak terduga. Sebab, itulah salah satu kriteria layak opini Kompas.
Pada suatu kali, Saldi pun tak segan-segan bertanya. “Nal, apa lagi yang menarik ditulis?”, begitu kadang kalau kami saling bertemu atau via telepon. Saya sarankan, kalau ada isu, jadilah yang pertama untuk menanggapainya. Saldi kemudian mengaku, usai Subuh sudah mulai membuka internet dan membaca berita-berita yang sesuai dengan bidang keahliannya. Di situlah kemudian Saldi semakin terpacu dan termotivasi untuk produktif menulis. Selalu ada ide-ide segar yang menarik untuk ditulis.
Ketika kasus gizi buruk dan busung lapar melanda Sumbar, saya kasih Saldi ide agar ia menulis hal itu dan kaitan dengan korupsi wakil rakyat. Oleh Saldi langsung menjadi ide tulisan yang menarik, Terbitlah opini “Korupsi di Negeri Busung Lapar” (Kompas, 28 Mei 2003, halaman 4).
Hari terbitnya tulisan itu, Saldi cerita dengan saya, ia satu pesawat dari Jakarta dengan Gubernur Zainal Bakar, ketika itu. Saldi cerita bagaimana mimik Zainal Bakar saat ketemu di atas pesawat, pasca ia membaca tulisan Saldi di Kompas tersebut. Saldi hanya tertawa melihat kejadian tersebut.
Terakhir, ketika Kompas mengangkat berita penghilangan ayat tembakau dalam UU Kesehatan, selain saya minta pendapat Saldi, saya juga menyarankan Saldi membuat opini. Karena pemikirannya sangat bagus. Dan enam hari setelah berita terbit, Saldi menulis opini berjudul “Kudeta Redaksional” (Kompas, 13 Oktober 2009, halaman 6). Ini sekadar gambaran, bahwa seorang Saldi juga rendah hati, tak segan-segan bertanya dan mau menerima saran/masukan.
Saking produktifnya, Saldi setahu saya tak hanya menulis di Kompas, tetapi juga media nasional lainnya. Kadang opininya muncul bersamaan di dua media. Ini sebenarnya sesuatu yang luar biasa di mata pembaca. Tapi, Saldi selalu memprioritasnya untuk Kompas.
Dari awal saya juga sudah beri gambaran. Ketika opini sudah berkali-kali dimuat di Kompas, suatu kali redaktur pasti meminta tulisan kepada Saldi. Saldi saya wanti-wanti, seandainya ada permintaan tulisan dari Jakarta (redaktur opini Kompas), maka jangan sesekali ditolak. Langsung iyakan, dan kalau perlu tinggalkan urusan kampus. Sebab, bila ditolak, untuk kali berikutnya kesempatan itu mungkin tak akan pernah ada lagi. Sepertinya, abis sudah kepercayaan redaktur, kalau permintaan itu ditolak. Karena untuk bisa jadi penulis pesanan, itu tidak gampang dan tak sembarang orang. Kalau sudah dipesan, nilai penghargaannya (honorarium) khusus.
Saldi mungkin menerima pandangan itu. Ketika ada permintaan tulisan, Saldi mengabari saya via telepon. Tulisan yang diminta kadang harus siap dalam beberapa jam, menjelang tenggat (deadline). Betapa senang Saldi mendapat tawaran itu.
Sejak itu, Saldi saya kira sudah mencatatkan dirinya sebagai pakar hukum negara di Indonesia yang produktif menulis. Sejalan dengan pemerintahan yang antikorupsi, nama Saldi Isra di pentas nasional, semakin berkibar. Karena tulisan bertebaran di mana-mana, Saldi pun bagai artis kalau sudah berada di Jakarta. Stasiun TV dan media cetak dan elektronik berlomba-lomba meminta Saldi untuk wawancara dan acara live di televisi dan radio. Sesuatu hal yang mungkin jauh dari bayangan Saldi sebelumnya.
Setelah itu banyak tawaran yang datang ke Saldi, dan ianya selalu cerita ke saya. Misalnya bagaimana ia diminta menulis laporan sebuah perusahaan, diminta jadi komentator di televisi untuk liputan live, hingga Saldi diminta dan diajak menjadi “orang SBY”, mungkin semacan tim ahli di bidang hukum, di awal-awal SBY jadi presiden, tahun 2004. Untuk yang terakhir, saran saya seperti diterima Saldi. Saya minta ditolak saja, kalau ingin jadi intelektual yang diperhitungkan sepanjang massa. Lebih baik independen. Jika bergabung, akan ada cap orang SBY. Kalau ini sudah terjadi, dan ketika SBY tak berkuasa lagi, amat sulit orang menerima pandangan Saldi sebagai penulis yang independen. Pasti dinilai sebagai penulis yang punya kepentingan.
Ketika nama Saldi mencuat sejak tahun 2002 di pangung nasional sebagai penulis dan tokoh yang antikorupsi, sejumlah lembaga sempat menghubungi saya baik dalam dan luar negeri, minta pendapat saya tentang Saldi, terkait dengan penghargaan yang akan mereka berikan. Mereka meminta saya mungkin karena saya wartawan dari media yang mereka percayai, di samping saya sering menjadikan Saldi narasumber. Mereka sepertinya mau mengkroscek. Karena saya tahu Saldi, maka rekomendasi yang saya berikan selalu positif dan apa adanya. Tak ada yang dilebih-lebihkan, karena seorang Saldi memang layak diperhitungkan.
Tahun 2004 Saldi Isra meraih penghargaan bergengsi, Bung Hatta Anti-Corruption Award. Kemudian disusul Awards of Achievement for People Who Make a Difference, dari The Gleitsman Foundation, AS, di tahun 2004 juga. Sebagai teman, saya bangga. Sekampung lagi….
Yang perlu dicatat dari Saldi, dalam tulisan-tulisannya atau gagasannya, ia kerapkali melontarkan hal-hal atau istilah yang menarik dan setelah itu dikutip dan dipakai banyak orang. Seperti istilah “tebang pilih”, lalu ide “baju terdakwa dipersidangan diberi merek/label koruptor”. Ide cerdas ini kemudian dilakukan KPK saat Antasari jadi Ketua KPK. Lalu istilah “Kudeta Redaksional”.
Makanya, tak salah Kompas menjadikan Saldi Isra menjadi salah seorang Tokoh Muda Inspiratif, yang tujuan akhirnya lebih mengenalkan orang-orang muda yang layak diperhitungkan menjadi menteri tahun 2014 ke depan…Pemikiran Saldi di Kompas pun dibukukan dengan judul “Kekuasaan dan Perilaku Korupsi”, terbit tahun 2009.
Siapa tahu, Saldi Isra kelak memang dipercaya jadi menteri…Kita lihat saja.
Tanggal 11 Februari 2009 Saldi Isra, dikukuhkan sebagai guru besar. Mungkin termasuk profesor termuda di bidang hukum di Indonesia. Saya bangga, dan selamat. Jangan berhenti menulis, kawan….

Jakarta, 22 Januari 2010



Senin, 07 Desember 2009

“Soe Hok-Gie…Sekali Lagi”, Kegilaan yang Menginspirasi…





Benar-benar gila. Enam tahun musuhan, hanya karena demi Soe Hok-Gie (Jakarta,17 Desember 1942- Puncak Mahameru, 16 Desember 1969), mereka bersatu kembali. Saking tergila-gilanya, dalam tempo dua minggu, seorang Mira Lesmana, misalnya, di sela-sela kesibukan yang luar biasa, sumbangan tulisan bisa selesai dua jam menjelang tenggat.
Ada belasan orang penulis dalam kategori sama gilanya dengan Soe Hok-Gie --karena teman seperjuangan dan tergila-gila dengan sosok Soe Hok-Gie, dalam waktu dua bulan, bisa menghadirkan buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi., setebal xxxix + 512 halaman. Ketika mereka dan puluhan pengagum serta teman Soe Hoe-Gie berjumpa, Jumat (4/12) siang di Bentara Budaya Jakarta, suasana menjadi begitu hangat. Mereka, yang umumnya sudah ubanan, tapi masih berjiwa muda, tampak saling bernoltagia. Silaturahim penuh kehangatan, yang mungkin sudah lama terputus, terjalin erat kembali.
Apalagi Rudy Badil, salah seorang editor buku dan teman Soe Hok-Gie, yang sama tergila-gila mendaki gunung, dengan licah dan kocak memperkenalkan satu per satu penulis dan membuka cerita yang sangat manusiawi sekali, kenangan semasa jadi aktivis kampus di Universitas Indonesia, jadi eksponen ’66. Sekitar 50-an pengunjung tak henti-hentinya dibuat tergelak, bahkan senyum-senyum malu.
Dan jika Anda sempat membaca buku ini --yang mungkin sudah beredar dan akan diluncurkan pertama kali, tanggal 16 Desember mendatang, di Universitas Indonesia, Depok, bersiap-siaplah jadi tambah gila. Tergila-gila karena tiba-tiba bisa jadi pengagum baru sosok Soe Hok-Gie. Semangat Anda akan menjadi terbakar dan yang pasti, menginspirasi.
Tergila-gila dan kemudian ikut peduli memikirkan masa kini, juga masa esok, alam bangsanya, siapa takut?
“Soe Hok-Gie…Sekali Lagi ini, yang katanya small outside with big inside, terbagi dalam lima bab dan tersusun unik. Unik karena buku kenangan sekaligus bungga rampai 20-an tulisan serta pemanfaatan dokumentasi ini membuat informasi kejadian dan peristiwa nyata, yang biarpun berlangsung 40-an tahun lalu, namun terasa betapa masih jelas benang merahnya dengan situasi alam bangsa zaman kini,” kata Rudy Badil, salah seorang dari tiga editor. Dua editor lainnya, Luki Sutrisno Bekti dan Nessy Luntungan R.
Buku dengan judul kecil Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya ini menyajikan dengan otentik dan amat eksklusif testimoni survivors Musibah Semeru 16 Desember 1969.
“Juga memuat rangkaian dokumentasi bagus tentang Soe Hok-Gie dan Idham Lubis, suatu sajian unik yang memberikan dimensi lain perihal kejadian masa lalu dua sekawan itu. Dari situ bisa diketahui bahwa –bahkan selewat 35 tahun sejak meninggalnya Soe 1969, nama Hok-Gie masih dicatut segelintir manusia culas untuk menjual proposal penipuan adanya harta karun tipu-tipu senilai triliunan rupiah di Puncak Mahameru,” papar Badil.
Yang mengejutkan, ada 14 tulisan dari penulis dengan dua kategori tadi; tergila-gila dan atau sama gilanya, yang bersikap kritis. Dengan tulisan yang bukan sekadar petasan, namun berisi ledakan bom yang mengejutkan dan patut direnungkan, yaitu betapa kejadian 40-an tahun lalu, masih mirip dan serupa dengan tahun 2010 yang ditakutkan dekat tahun “kiamat 2012”.
Untuk melengkapi kenangan dan mengenal semangat Soe Hok-Gie yang mashyur dengan tulisannya yang blak-blakan, terbuka, dan berani (untuk ukuran tahun 1967-1969), pembaca bisa menikmati 17 tulisan Soe Hok-Gie yang berisikan kepedulian, kesetaraan, dan kekhawatirannya terhadap nasib alam bangsanya, Indonesia. Opini di saat “djaman orde baru” itu, masihlah ada mirip-miripnya dengan “zaman orde lanjutkan” yang akan menapak hari ke-100 ini.
Jakob Oetama dalam tulisannya “Gelisah atas Nama Integritas” menulis, “Di tengah krisis rasa keadilan, hilangnya rasa dan gencarnya semangat menggugat hukum saat ini, sosok Soe Hok-Gie pantas ditampilkan. Dilakukan tidak dengan maksud mengkultusindividukan, tidak juga memaksakan, melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, utamanya integritas dan kebersihan hati.”
Menurut Jakob, Soe Hok-Gie, mungkin tidak sekadar nama, tetapi sebuah nama yang telah mengukirkan sosok yang terus gelisah, inspirator yang terus menggugat…atas nama integritas dan kehormatan diri.




salam, yurnaldi

Jumat, 04 Desember 2009

Tulisan yang juara pertama itu...(4, habis)


Ya, begitulah. Terobosan lain terus dilakukan. Yang dalam ujicoba adalah menemukan musuh alami hama kepik jeruk pada tanaman jeruk, yang menyebabkan buah jeruk jadi mengeras dan airnya tak ada. Selama ini hama kepik jeruk sulit diberantas meski sudah menggunakan pestisida. Tiga ekor hama kepik jeruk dalam satu batang, bisa merusak semua buah jeruk.
“Untuk tingkat kerusakan 30 persen sudah bisa kita atasi dengan agens hayati yang masih dalam ujicoba. Kita akan lakukan penelitian dalam enam bulan lagi, setelah itu baru kita lempar ke masyarakat petani,” ujar Djoni. “Bila ini berhasil, merupakan penemuan spektakuler di Indonesia.”
Yang spektakuler, yang membuat ekonom dan guru besar Faisal Basri tahun 2008 mau tinggal (belajar) beberapa malam di Institut Pertanian Organik (IPO) Aia Angek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, adalah petani binaan Djoni menemukan pupuk Cikam (cirit kambing) dan pupuk cair dari tanaman semak tothonia dan kecubung, tahun 2003.
Sebelum Faisal Basri sudah tak terhitung guru besar, petani, pejabat, pakar, peneliti, dan tokoh masyarakat adat, serta wakil rakyat berkunjung ke IPO Aia Angek untuk menyaksikan langsung bagaimana petani mengelola potensi lokal dengan biaya murah, dan hasil pertanian ramah lingkungan.
Sebab, petani binaan Djoni itu, yaitu Sutan Mancayo dan Andra, telah melakukan lompatan besar di bidang pertanian ramah lingkungan di Indonesia. Mungkin sebuah revolusi di bidang pertanian hijau.
Tahun 2006, penulis sudah menulis profil Sutan Mancayo dan Andra (baca: Sosok: Revolusi Pertanian Hijau di Sumbar, 13 Februari 2006).
Urine kambing dan tahi kambing yang selama ini terbuang percuma dan belum diketahui kegunaannya, di tangan Sutan Mancayo dan Andra dapat digunakan untuk pupuk ramah lingkungan. Tahi kambing yang sulit hancur oleh air, ternyata bisa hancur oleh urine kambing itu sendiri.
Temuan pupuk tahi/cirit kambing itu bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk lainnya, yang harganya relatif mahal dan membuat petani selalu terjerat utang.
Ketika temuan petani itu diteliti Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, urine kambing rupanya mengandung kadar nitrogen 36,90 sampai 37,31 persen, fosfat 16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67-1,27 persen. Artinya, kandungan nitrogen pada urine kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP 36, yaitu 36 persen nitrogen, atau tak beda jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45 persen. Dua kilogram pupuk urea bisa diganti dengan 2,5 liter urine kambing.
Data ujicoba di IPO Aia Angek, satu ekor kambing menghasilkan 2,5 liter urine per hari dan menghasilkan kotoran (tahi) sebanyak satu karung selama dua bulan. Untuk kebutuhan pupuk lahan satu hektar per satu musim tanam, dibutuhkan dua ton urea. Dengan memelihara 10 ekor kambing, kebutuhan pupuk untuk satu hektar lahan sudah teratasi dan ramah lingkungan lagi.
Sedangkan dari daun tanaman tithonia, dari 20 kg daun tithonia, bisa dihasilkan 5,5 liter pupuk cair. Dari semaknya bisa dibuat kompos. Dari hasil penelitian, pupuk cair tithonia mengandung delapan unsur mikro lain, seperti Ca, Mg, K, Na, Cu, Za, Mn, dan Fe. Pupuk ini lebih bagus dari pupuk kimia karena mengandung banyak unsur mikro.
Contoh nyata bagaimana pertanian ramah lingkungan ini bisa membuat petani sejahtera, sebagaimana dipraktikkan petani di lahan IPO, bisa dilukiskan sebagai berikut:
Untuk menanam brokoli di lahan seluas 400 meter persegi atau 0,04 hektar, untuk bibit (1.000 batang) dibutuhkan Rp70.000. Pestisida perlu 400.000, pupuk Rp225.000. Total biaya Rp695.000. Setelah 3,5 bulan, brokoli yang diproduksi sebanyak 300 kg. Jika biaya transportasi Rp300.000 dan harga jual Rp4.000 per kg, total uang yang didapat petani Rp1,2 juta. Dipotong biaya produksi, petani hanya mendapatkan Rp205.000. Itu kalau dengan pertanian primitif, pertanian yang kini digalakkan jutaan petani di Indonesia.
Dengan pertanian ramah lingkungan dan ramuan antihama (agens hayati) dan pupuk alami (tahi kambing), di lahan yang sama, semua biaya pengeluaran bisa ditiadakan. Ketika brokoli siap panen, pembeli datang dan membeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran, bisa Rp7.500 per kg. Dengan embel-embel produksi pertanian organik, brokoli bisa laku Rp15.000 per kg.
Artinya, dengan harga Rp7.500 per kg, petani mendapat hasil Rp2.250.000 per 3,5 bulan. Bandingkan dengan pola anorganik, hanya memperoleh Rp205.000 per 3,5 bulan. Dengan pertanian organik, di lahan yang sama, bisa ditanam 3-4 jenis tanaman (tumpang sari), sehingga dari lahan 400 meter persegi bisa mendatangkan penghasilan Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan.
Pertanian organik dengan temuan-temuan spektakuler ini, boleh dikatakan sebuah jawaban untuk pertanian masa depan, yang sekaligus upaya menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan. Pertanian hijau ramah lingkungan dengan biaya murah dan hasil melimpah, karena tidak membutuhkan pestisida dan pupuk kimia. Lebih dari itu, keuntungan yang didapat berlipat ganda dan sehat dikonsumsi.
Yang jadi pertanyaan, apa pemerintah, gubernur atau menteri pertanian, berani ambil kebijakan ini?



Jakarta, 28 November 2009



Yurnaldi
Email: nalkompas@yahoo.com
f: yurnaldi paduka raja
hp 08121015276

Tulisan yang juara pertama itu...(3)




Revolusi pertanian hijau
Adalah kenyataan, Indonesia adalah negara agraris yang subur makmur, sebagian besar penduduknya adalah petani, tapi ironisnya petani di Indonesia tetap miskin. Belum sejahtera sebagaimana diharapkan.
Sejalan dengan maksud bagaimana menyejahterakan petani dan sekaligus menciptakan bumi yang lebih baik, yang intinya adalah bagaimana menyelamatkan bumi, memelihara dan mencegah lingkungan dari kerusakan, maka revolusi pertanian hijau adalah jawaban untuk itu.
Revolusi pertanian hijau adalah pertanian yang menghindari pemakaian bahan kimia, karena bahan kimia dapat mencemari lingkungan. Pertanian hijau adalah pertanian organik.
Pertani kita miskin karena sudah sejak lama, zaman Orde Baru, dibodohi melalui metode pertanian yang menuntut pengeluaran sangat besar dan tak ramah lingkungan, merusak bumi. Petani oleh pemerintah Orde Baru tidak saja dituntut peningkatan produksi, tetapi juga dipaksa memakai pupuk anorganik, pestisida, bibit impor, bahkan juga platik mulsa. Ini sebenarnya penipuan dan membuat ketergantungan petani dengan hal tersebut sangat tinggi.
Pemerintah waktu itu lebih fokus dengan peningkatan produksi, yang terbukti tak menjamin peningkatan kesejahteraan petani. Aneh, petani yang meja makannya saja tak pakai alas meja, malah ditawarkan pakai plastik mulsa untuk menutupi Bumi Tuhan yang luas ini. Seharusnya, yang penting itu bukan peningkatan produksi, tapi peningkatan kesejahteraan petani.
Kebetulan penulis, ketika bertugas di Sumatera Barat, melihat langsung bagaimana revolusi pertanian hijau digalakkan dan bertemu langsung para pelaku dan penemu yang membuat terobosan besar dalam revolusi pertanian hijau di Indonesia.
Untuk memberantas hama, misalnya, petani di Sumbar menggalakkan pemakaian agens hayati, musuh alami. Selama ini produk-produk usaha tani rusak kuantitas dan kualitasnya karena serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) –menyusul penggunaan pestisida yang tak terkendali.
Salah seorang yang gigih menggalakkan revolusi pertanian hijau sejak sekitar 25 tahun lalu sampai sekarang adalah Djoni, yang tahun tahun 2009 meraih penghargaan Kalpataru. Menurut Djoni yang kini Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumatera Barat mengatakan, sampai saat ini sedikitnya sudah 28 agens hayati yang sudah ditemukan dan digalakkan pemakaian.
Jenis agens hayati yang ditemukakan adalah entopatogen; berbentuk virus (seperti Se-NPV, Si-NPV, Ha-NPV, dan Pc-NPV), berbentuk bakteri (seperti Bxl-Cb, Bx2-EZ, Bx3-Mt, Bx4-Pi, dan Bx5-Po), dan berbentuk cendawan (Beauveia, Metarhizium, Hirsultella, dan Gibellula). Selain itu, jenis agens antagonis hanya ditemukan pada cendawan seperti Trichorderma, Cliocladium, dan untuk bahteri contohnya Pf serta jenis Parasitosid, seperti Hemiptarsenus.
Agens hayati yang ditemukan tersebut telah teruji efektivitasnya dalam pengendalian OPT di Sumatera Barat. Dilukiskan, pemanfaatan agens hayati Se-NPV pada tanaman bawang dapat menekan serangan ulat daun bawang sekitar 84 persen, dan penyelamatan hasil yang hilang sekitar 80 persen.
Pemanfaatan agens hayati Bx1-Cb pada tanaman kubis, dapat menekan serangan ulat krop sekitar 90 persen, dan penyelamatan hasil yang hilang 63 persen. Pemanfaatan agens hayati Ha-NPV pada tanaman tomat dapat menekan serangan ulat buah sekitar 65,5 persen dan menyelamatkan hasil yang hilang sekitar 83 persen. Sementara, pemanfaatan agens hayati Gliocladium pada tanaman cabai dapat menekan serangan penyakit buah sekitar 72 persen dan menyelamatkan hasil yang hilang sekitar 56 persen.
“Sejak delapan tahun 2001 sudah dibentuk Pusat Informasi dan Pelayanan Agens Hayati di Alahanpanjang, Kabupaten Solok. Pemakaian agens hayati oleh para petani setempat, bisa menghemat biaya sekitar Rp2,5 miliar per tahun. Sebab, mereka tidak perlu lagi menggunakan pestisida,” kata Djoni.
Untuk tanaman cabai, dengan sistem pertanian organik bisa dilakukan penghematan sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta per hektar. Untuk tanaman padi, misalnya, dengan sistem pertanian organik, waktu panen lebih cepat 15 hari dibanding sistem non-organik. Hasil panen pun lebih tinggi. Sistem pertanian ramah lingkungan ini pun tak merusak humus tanah, malah semakin menyuburkan tanah.
Dengan pertanian ramah lingkungan metoda tanam sebatang yang dikembangkan di Sumatera Barat, produktivitas lahan semakin meningkat. Semula hasil panen hanya sekitar 5,5 ton GKG per hektar. Dengan metode ini, hasil panen meningkat menjadi 9,6 ton per hektar. (bersambung)

Tulisan yang juara pertama itu...(2)


Dampak bagi Indonesia
Dampak nyata dari perubahan iklim di Indonesia, ternyata sudah dari dulu dirasakan dan hingga sekarang. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim yang menyebabkan bencana seperti banjir, longsor, kemarau panjang, angin kencang, dan gelombang tinggi yang menyebabkan kapal tenggelam.
“Ancaman terhadap bencana iklim di Indonesia ini bahkan dapat terjadi dalam intensitas lebih besar, yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat petani, nelayan, pedesaan dan perkotaan. Dampak yang lebih luas tidak hanya merusak lingkungan, akan tetapi juga membahayakan kesehatan manusia, keamanan pangan, kegiatan pembangunan ekonomi, pengelolaan sumberdaya alam dan infrastruktur fisik,” kata pakar lingkungan hidup dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Amanda Katili, pada diskusi peluncuran buku State of World Population 2009, 19 November 2009, di Jakarta.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, pada saat peluncuran buku State of World Population 2009 menegaskan, pemanasan global juga telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan, seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, dan malaria.
Padahal, penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah, diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah mampu ditangani, namun sampai sekarang masih mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Timbul pula penyakit infeksi baru, seperti SARS dan flu burung.
“Dalam beberapa tahun ke depan, perubahan iklim dapat mengancam kehidupan para nelayan di pesisir sehingga terjadi kemiskinan dan juga kelangkaan pangan yang luar biasa. Saat ini kita sudah dapat merasakan akibat berubahnya iklim yang sulit diprediksi, seperti musim hujan yang semakin pendek sementara kemarau semakin panjang atau sebaliknya. Keadaan ini mengakibatkan petani sulit bercocok tanam dan sering terjadi gagal panen akibat kekurangan air dan serangan hama,” ungkap Menneg PP dan KA, Linda Amalia Sari.

Bebas dari kemiskinan
Dengan kenyataan (dampak) seperti yang telah dijelaskan tadi, sudah saatnya masyarakat Indonesia peduli bumi, dengan menciptakan bumi yang lebih baik.
Saya menggarisbawahi apa yang dikatakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, bahwa perubahan iklim dapat mengancam kehidupan nelayan (dan juga petani) sehingga terjadi kemiskinan dan juga kelangkaan pangan yang luar biasa. Kelangkaan pangan disebabkan kekuarangan air dan serangan hama.
Dalam tulisan ini saya mencoba menginspirasi masyarakat melakukan upaya penyesuaian dengan kondisi yang sekarang (adaptasi), yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan. Masyarakat yang miskin bisa berkurang jumlahnya.
Sebagai gambaran kemiskinan di Indonesia, Media Indonesia edisi 28 Mei 2008 melaporkan, sejak krisis ekonomi mulai menerpa Indonesia pada 1997, jumlah orang miskin terus bertambah. Indonesia makin berada dalam kungkungan kemiskinan. Potret kemiskinan di Indonesia hingga 2006 sulit untuk diartikan lain selain suram.
Data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga maret 2006 mencapai 39,05 juta atau 17,75 persen dari total 222 juta penduduk. Dengan begitu, terjadi lonjakan 3,95 juta jika dibandingkan dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Februari 2005 yang menyebutkan jumlah penduduk miskin 35, 10 juta atau 15,97 persen dari total jumlah penduduk.
Data terbaru, yang diungkapkan Erna Witoelar dari Millennium Development Goals (MDGs) dalam buku Kita Suarakan MDGs demi Pencapaiannya di Indonesia 2007/2008, jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan tahun 2007 berjumlah 37,2 juta.
Ke depan, akibat dampak dari perubahan iklim ini angka kemiskinan sebagaimana diprediksikan bertambah, angkanya mungkin mencapai lebih dari 37 juta, mungkin 40 juta atau 41 juta sampai 50 juta penduduk miskin.
Sekarang, bagaimana agar masyarakat miskin tidak bertambah jumlahnya? Atau, bagaimana angka kemiskinan yang ada saat ini bisa dikurangi? Lalu bagaimana, mengantisipasi kelangkaan pangan?
Baca terus tulisan ini, semoga Anda terinspirasi. (bersambung)

Tulisan yang juara pertama itu...(1)


Peduli Bumi, Solusi Kemiskinan

Oleh Yurnaldi
Jurnalis KOMPAS

Kecemasan pemerintah di banyak negara, termasuk Indonesia, terhadap iklim global atau pemanasan global saat ini semakin menjadi-jadi. Saking pentingnya persoalan ini, negara-negara di dunia akan bertemu di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009, dalam Konferensi PBB UNFCCC-COP ke-15.
Pertemuan yang juga diikuti oleh delegasi Indonesia itu akan membahas langkah bersama menghadapi dampak perubahan iklim yang diprediksi semakin memburuk. Akan ada kesepakatan global baru pengganti Protokol Kyoto --disepakati tahun 1997, yang diharapkan lebih mengikat negara-negara untuk bertanggung jawab atas penurunan emisinya.
Adalah kenyataan, sejak Protokol Kyoto tentang pemanasan global itu disepakati, perubahan iklim justru menunjukkan gejala memburuk dan makin cepat—melebihi perkiraan terburuk di tahun 1997. Ketika dunia selama belasan tahun didera pemanasan global, lautan Artik yang tadinya beku kini mencair menjadi jalur-jalur baru perkapalan. Di Greenland dan Antartika, seperti dilaporkan Kompas.com (24 November 2009), lapisan es telah berkurang triliunan ton. Gletser di pegunungan Eropa, Amerika Selatan, Asia, dan Afrika menciut sangat cepat.
Banyak fakta-fakta perubahan iklim lainnya yang sampai sekarang terus berlangsung.
Indonesia pun dengan sigap menyikapinya dengan membentuk Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), yang diketuai oleh Presiden RI dengan wakil ketua Menko Perekonomian dan Menko Kesra, dan beranggotakan 17 menteri dan satu kepala badan.
Dalam Perpres No 46 Tahun 2008, tugas DNPI adalah merumuskan kebijakan nasional, strategi, program dan kegiatan pengendalian perubahan iklim. Mengkoordinasikan kegiatan dalam pelaksanaan tugas pengendalian perubahan iklim yang meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, alih teknologi, dan pendanaan. Kemudian merumuskan kebijakan pengaturan mekanisme dan tata cara perdagangan karbon. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi implementasi tentang pengendalian perubahan iklim. Lalu, memperkuat posisi Indonesia untuk mendorong negara-negara maju untuk lebih bertanggung jawab dalam pengendalian perubahan iklim.
Sebelum ada DNPI, Indonesia telah menghasilkan Rencana Aksi Nasional terhadap Perubahan Iklim (RANPI) pada bulan Desember 2007, yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, menjelang Conference of Parties UNFCCC ke-13 di Bali. Namun, dalam kurun waktu 2008 hingga sekarang, posisi Indonesia dalam negosiasi perubahan iklim telah mengalami kemajuan berarti yang didukung oleh serangkaian kajian perubahan iklim di Indonesia.
Dari kajian yang dilakukan DNPI, kesimpulannya sebagai berikut: pertama, sumber emisi gas rumah kaca Indonesia yang terbesar adalah dari lahan gambut, deforestrasi dan pembangkitan tenaga listrik. Kedua, pemanfaatan tenaga panas bumi dapat berarti kesempatan pencegahan emisi skala besar dengan biaya kecil. Ketiga, Indonesia berpeluang mengurangi emisi CO2 sebesar 2,6 giga ton setiap tahun pada 2030. (bersambung)

Alhamdulillah, akhirnya juara juga


Setiap kita pasti ingin meraih sesuatu prestasi. Prestasi, memang, tak selalu identik dengan meraih gelar juara. Dari tidak lihai, menjadi lihai menulis, itu sudah prestasi. Dari belum pernah dimuat di media nasional, lalu tiba-tiba bisa tembus media nasional, juga prestasi yang membanggakan bagi penulisnya.

Atau, dari yang semula takut dan tak berani menulis buku, tiba-tiba bersemangat menulis buku dan terbit, misalnya, ini juga prestasi yang sangat luar biasa. Bagi wartawan, kata Presiden Direktur Kompas Gramedia Jakob Oetama, buku adalah mahkota wartawan. Artinya, kehebatan tertinggi seorang wartawan tak hanya bisa sekadar menulis berita, menulis feature, atau menulis kolom dan artikel. Akan tetapi, juga mampu menulis buku.

Sebelum bergabung dengan Kompas, saya sudah menulis buku. Ya, semasa mahasiswa saya sudah menulis dua buku jurnalistik, sehingga kemudian menjadi modal utama saya untuk melamar bergabung dengan harian terkemuka itu. Kompas memang target saya sejak jadi mahasiswa. Ibaratnya, saya ingin membuktikan kemampuan saya dalam hal menulis. Karena banyak dosen, hingga rektor waktu itu, menilai saya sangat layak di Kompas.

Mereka menilai begitu, karena artikel-artikel yang saya tulis waktu mahasiswa, seperti pemikiran seorang doktor. Hehe...Ya, terserah mereka menilai. Tapi, setidaknya, dalam beberapa kali lomba karya ilmiah di kampus dan tingkat regional, saya berdebat dengan profesor dan doktor.

Di luar itu, banyak ide saya yang kemudian diwujudkan. Waktu saya mahasiswa, saya pernah mengusulkan, misalnya agar IKIP Padang memiliki Rektor IV, yang membidangi kerjasama dalam dan luar negeri. Akhirnya, ide ini dilaksanakan, tapi bukan dalam bentuk lembaga Pembantu Rektor IV --melainkan Lembaga Kerjasama, yang tugas, fungsi dan wewenangnya seperti yang saya usulkan. Juga pernah saya gagas IKIP menjadi Universitas, dan untuk mendidik calon guru cukup ada fakultas keguruan dan ilmu kependidikan (FKIP). Ini dalam bentuk karya tulis ilmiah, berdebat dengan pakar pendidikan yang jadi juri, dan akhirnya menang. Ide ini kemudian juga jalan.

Bahkan, karena saya kuliah di pendidikan kimia FPMIPA, saya juga pernah menulis sesuatu yang menghebohkan. Saya menulis tentang kiamat yang ditinjau dari ilmu kimia. Saya seminarkan di kampus, di muat di media massa. Jadi sebelum heboh kiamat 2012 sekarang, saya sempat meramal kiamat yang tahunnya 2040. Rasanya, mau saya bukukan juga pemikiaran itu. Saya juga membuat dosen banyak belajar pada saya, ketika saya menyajikan kolokium tentang senjata kimia, yang dampaknya lebih dahsyat dari bom.

Ya, begitulah. Betapa enak kita melontarkan gagasan melalui kegiatan menulis artikel atau opini, dibaca banyak orang, dikomentari, dan diam-diam ada yang melaksanakan.

Dan kembali ke soal artikel yang saya lombakan dan juara itu. Saya terdorong menulis karena selama dua tahun terakhir pengamatan saya, soal isu pemanasan global dan sebangsanya, hanya banyak diulas pada tataran persoalan di luar negeri dan menyingsung sebatas dampak-dampaknya. Lantas solusinya mana? Apa yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia?

Berangkat dari pertanyaan itu, kebetulan saya sering diskusi dan meliput persoalan urgen bangsa ini yang sejalan dengan upaya revolusi pertanian hijau yang ramah lingkungan. Sumbar melahirkan banyak gagasan untuk bangsa ini. Itu saya kemukakan sedetail-detailnya. Inilah yang membuat saya optimistis dan akan meraih gelar juara.

Selain itu, sekurang-kurangnya, saya juga ingin membuktikan, bahwa saya tak hanya jago berteori bagaimana menulis artikel yang layak muat media massa dan layak juara. Hehe...(mungkin kelak akan saya bukukan tersendiri).

Pada pengumuman pemenang semalam, saya meraih nilai tertinggi. Berikut kutipan beritanya:


Wartawan Kompas Juara I Menulis Artikel

JAKARTA, KOMPAS.com – Artikel berjudul “Peduli Bumi, Solusi Kemiskinan” ditulis Yurnaldi, wartawan Kompas, berhasil meraih juara pertama dengan nilai tertinggi 237 pada Lomba Menulis Artikel Antarjurnalis tentang Go Green dengan tema Ciptakan Bumi yang Lebih Baik.
Lomba yang digelar Mall Ciputra untuk kedua kalinya itu, diikuti antusias wartawan peduli lingkungan dari berbagai media massa nasional dan daerah. “Ada 57 artikel yang dinilai, yang dikirim 37 wartawan dari Jakarta, Surabaya, dan daerah lainnya,” kata Public Relations Mal Ciputra Jakarta, Rida Kusrida, pada acara Media Gathering, Jumat (4/12) malam di Hotel Ciputra, Jakarta.

Rida menjelaskan, Mal Ciputra Jakarta bermaksud meneruskan dedikasi programGo Green guna mendukung dan menciptakan bumi yang lebih baik. Selalu berupaya membantu menyelamatkan bumi yang kita cintai ini dengan cara mencegahdan mengatasi dampak dari pemanasan global dengan acara sosial yang diusung Go Green.

Juara kedua dan ketiga diraih wartawan Koran Tempo dengan nilai 224,5 dan wartawan Swa Sembada dengan nilai 222. Penitia juga memilih dua pemenang harapan. Para pemenang meraih hadiah berupa piala, piagam, dan sejumlah uang tunai.(NAL)