Jumat, 04 Desember 2009

Tulisan yang juara pertama itu...(3)




Revolusi pertanian hijau
Adalah kenyataan, Indonesia adalah negara agraris yang subur makmur, sebagian besar penduduknya adalah petani, tapi ironisnya petani di Indonesia tetap miskin. Belum sejahtera sebagaimana diharapkan.
Sejalan dengan maksud bagaimana menyejahterakan petani dan sekaligus menciptakan bumi yang lebih baik, yang intinya adalah bagaimana menyelamatkan bumi, memelihara dan mencegah lingkungan dari kerusakan, maka revolusi pertanian hijau adalah jawaban untuk itu.
Revolusi pertanian hijau adalah pertanian yang menghindari pemakaian bahan kimia, karena bahan kimia dapat mencemari lingkungan. Pertanian hijau adalah pertanian organik.
Pertani kita miskin karena sudah sejak lama, zaman Orde Baru, dibodohi melalui metode pertanian yang menuntut pengeluaran sangat besar dan tak ramah lingkungan, merusak bumi. Petani oleh pemerintah Orde Baru tidak saja dituntut peningkatan produksi, tetapi juga dipaksa memakai pupuk anorganik, pestisida, bibit impor, bahkan juga platik mulsa. Ini sebenarnya penipuan dan membuat ketergantungan petani dengan hal tersebut sangat tinggi.
Pemerintah waktu itu lebih fokus dengan peningkatan produksi, yang terbukti tak menjamin peningkatan kesejahteraan petani. Aneh, petani yang meja makannya saja tak pakai alas meja, malah ditawarkan pakai plastik mulsa untuk menutupi Bumi Tuhan yang luas ini. Seharusnya, yang penting itu bukan peningkatan produksi, tapi peningkatan kesejahteraan petani.
Kebetulan penulis, ketika bertugas di Sumatera Barat, melihat langsung bagaimana revolusi pertanian hijau digalakkan dan bertemu langsung para pelaku dan penemu yang membuat terobosan besar dalam revolusi pertanian hijau di Indonesia.
Untuk memberantas hama, misalnya, petani di Sumbar menggalakkan pemakaian agens hayati, musuh alami. Selama ini produk-produk usaha tani rusak kuantitas dan kualitasnya karena serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) –menyusul penggunaan pestisida yang tak terkendali.
Salah seorang yang gigih menggalakkan revolusi pertanian hijau sejak sekitar 25 tahun lalu sampai sekarang adalah Djoni, yang tahun tahun 2009 meraih penghargaan Kalpataru. Menurut Djoni yang kini Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumatera Barat mengatakan, sampai saat ini sedikitnya sudah 28 agens hayati yang sudah ditemukan dan digalakkan pemakaian.
Jenis agens hayati yang ditemukakan adalah entopatogen; berbentuk virus (seperti Se-NPV, Si-NPV, Ha-NPV, dan Pc-NPV), berbentuk bakteri (seperti Bxl-Cb, Bx2-EZ, Bx3-Mt, Bx4-Pi, dan Bx5-Po), dan berbentuk cendawan (Beauveia, Metarhizium, Hirsultella, dan Gibellula). Selain itu, jenis agens antagonis hanya ditemukan pada cendawan seperti Trichorderma, Cliocladium, dan untuk bahteri contohnya Pf serta jenis Parasitosid, seperti Hemiptarsenus.
Agens hayati yang ditemukan tersebut telah teruji efektivitasnya dalam pengendalian OPT di Sumatera Barat. Dilukiskan, pemanfaatan agens hayati Se-NPV pada tanaman bawang dapat menekan serangan ulat daun bawang sekitar 84 persen, dan penyelamatan hasil yang hilang sekitar 80 persen.
Pemanfaatan agens hayati Bx1-Cb pada tanaman kubis, dapat menekan serangan ulat krop sekitar 90 persen, dan penyelamatan hasil yang hilang 63 persen. Pemanfaatan agens hayati Ha-NPV pada tanaman tomat dapat menekan serangan ulat buah sekitar 65,5 persen dan menyelamatkan hasil yang hilang sekitar 83 persen. Sementara, pemanfaatan agens hayati Gliocladium pada tanaman cabai dapat menekan serangan penyakit buah sekitar 72 persen dan menyelamatkan hasil yang hilang sekitar 56 persen.
“Sejak delapan tahun 2001 sudah dibentuk Pusat Informasi dan Pelayanan Agens Hayati di Alahanpanjang, Kabupaten Solok. Pemakaian agens hayati oleh para petani setempat, bisa menghemat biaya sekitar Rp2,5 miliar per tahun. Sebab, mereka tidak perlu lagi menggunakan pestisida,” kata Djoni.
Untuk tanaman cabai, dengan sistem pertanian organik bisa dilakukan penghematan sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta per hektar. Untuk tanaman padi, misalnya, dengan sistem pertanian organik, waktu panen lebih cepat 15 hari dibanding sistem non-organik. Hasil panen pun lebih tinggi. Sistem pertanian ramah lingkungan ini pun tak merusak humus tanah, malah semakin menyuburkan tanah.
Dengan pertanian ramah lingkungan metoda tanam sebatang yang dikembangkan di Sumatera Barat, produktivitas lahan semakin meningkat. Semula hasil panen hanya sekitar 5,5 ton GKG per hektar. Dengan metode ini, hasil panen meningkat menjadi 9,6 ton per hektar. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar