Jumat, 04 Desember 2009

Tulisan yang juara pertama itu...(4, habis)


Ya, begitulah. Terobosan lain terus dilakukan. Yang dalam ujicoba adalah menemukan musuh alami hama kepik jeruk pada tanaman jeruk, yang menyebabkan buah jeruk jadi mengeras dan airnya tak ada. Selama ini hama kepik jeruk sulit diberantas meski sudah menggunakan pestisida. Tiga ekor hama kepik jeruk dalam satu batang, bisa merusak semua buah jeruk.
“Untuk tingkat kerusakan 30 persen sudah bisa kita atasi dengan agens hayati yang masih dalam ujicoba. Kita akan lakukan penelitian dalam enam bulan lagi, setelah itu baru kita lempar ke masyarakat petani,” ujar Djoni. “Bila ini berhasil, merupakan penemuan spektakuler di Indonesia.”
Yang spektakuler, yang membuat ekonom dan guru besar Faisal Basri tahun 2008 mau tinggal (belajar) beberapa malam di Institut Pertanian Organik (IPO) Aia Angek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, adalah petani binaan Djoni menemukan pupuk Cikam (cirit kambing) dan pupuk cair dari tanaman semak tothonia dan kecubung, tahun 2003.
Sebelum Faisal Basri sudah tak terhitung guru besar, petani, pejabat, pakar, peneliti, dan tokoh masyarakat adat, serta wakil rakyat berkunjung ke IPO Aia Angek untuk menyaksikan langsung bagaimana petani mengelola potensi lokal dengan biaya murah, dan hasil pertanian ramah lingkungan.
Sebab, petani binaan Djoni itu, yaitu Sutan Mancayo dan Andra, telah melakukan lompatan besar di bidang pertanian ramah lingkungan di Indonesia. Mungkin sebuah revolusi di bidang pertanian hijau.
Tahun 2006, penulis sudah menulis profil Sutan Mancayo dan Andra (baca: Sosok: Revolusi Pertanian Hijau di Sumbar, 13 Februari 2006).
Urine kambing dan tahi kambing yang selama ini terbuang percuma dan belum diketahui kegunaannya, di tangan Sutan Mancayo dan Andra dapat digunakan untuk pupuk ramah lingkungan. Tahi kambing yang sulit hancur oleh air, ternyata bisa hancur oleh urine kambing itu sendiri.
Temuan pupuk tahi/cirit kambing itu bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk lainnya, yang harganya relatif mahal dan membuat petani selalu terjerat utang.
Ketika temuan petani itu diteliti Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, urine kambing rupanya mengandung kadar nitrogen 36,90 sampai 37,31 persen, fosfat 16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67-1,27 persen. Artinya, kandungan nitrogen pada urine kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP 36, yaitu 36 persen nitrogen, atau tak beda jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45 persen. Dua kilogram pupuk urea bisa diganti dengan 2,5 liter urine kambing.
Data ujicoba di IPO Aia Angek, satu ekor kambing menghasilkan 2,5 liter urine per hari dan menghasilkan kotoran (tahi) sebanyak satu karung selama dua bulan. Untuk kebutuhan pupuk lahan satu hektar per satu musim tanam, dibutuhkan dua ton urea. Dengan memelihara 10 ekor kambing, kebutuhan pupuk untuk satu hektar lahan sudah teratasi dan ramah lingkungan lagi.
Sedangkan dari daun tanaman tithonia, dari 20 kg daun tithonia, bisa dihasilkan 5,5 liter pupuk cair. Dari semaknya bisa dibuat kompos. Dari hasil penelitian, pupuk cair tithonia mengandung delapan unsur mikro lain, seperti Ca, Mg, K, Na, Cu, Za, Mn, dan Fe. Pupuk ini lebih bagus dari pupuk kimia karena mengandung banyak unsur mikro.
Contoh nyata bagaimana pertanian ramah lingkungan ini bisa membuat petani sejahtera, sebagaimana dipraktikkan petani di lahan IPO, bisa dilukiskan sebagai berikut:
Untuk menanam brokoli di lahan seluas 400 meter persegi atau 0,04 hektar, untuk bibit (1.000 batang) dibutuhkan Rp70.000. Pestisida perlu 400.000, pupuk Rp225.000. Total biaya Rp695.000. Setelah 3,5 bulan, brokoli yang diproduksi sebanyak 300 kg. Jika biaya transportasi Rp300.000 dan harga jual Rp4.000 per kg, total uang yang didapat petani Rp1,2 juta. Dipotong biaya produksi, petani hanya mendapatkan Rp205.000. Itu kalau dengan pertanian primitif, pertanian yang kini digalakkan jutaan petani di Indonesia.
Dengan pertanian ramah lingkungan dan ramuan antihama (agens hayati) dan pupuk alami (tahi kambing), di lahan yang sama, semua biaya pengeluaran bisa ditiadakan. Ketika brokoli siap panen, pembeli datang dan membeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran, bisa Rp7.500 per kg. Dengan embel-embel produksi pertanian organik, brokoli bisa laku Rp15.000 per kg.
Artinya, dengan harga Rp7.500 per kg, petani mendapat hasil Rp2.250.000 per 3,5 bulan. Bandingkan dengan pola anorganik, hanya memperoleh Rp205.000 per 3,5 bulan. Dengan pertanian organik, di lahan yang sama, bisa ditanam 3-4 jenis tanaman (tumpang sari), sehingga dari lahan 400 meter persegi bisa mendatangkan penghasilan Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan.
Pertanian organik dengan temuan-temuan spektakuler ini, boleh dikatakan sebuah jawaban untuk pertanian masa depan, yang sekaligus upaya menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan. Pertanian hijau ramah lingkungan dengan biaya murah dan hasil melimpah, karena tidak membutuhkan pestisida dan pupuk kimia. Lebih dari itu, keuntungan yang didapat berlipat ganda dan sehat dikonsumsi.
Yang jadi pertanyaan, apa pemerintah, gubernur atau menteri pertanian, berani ambil kebijakan ini?



Jakarta, 28 November 2009



Yurnaldi
Email: nalkompas@yahoo.com
f: yurnaldi paduka raja
hp 08121015276

Tidak ada komentar:

Posting Komentar