Rabu, 02 Desember 2009

Menulis, Asyik Gitu, Loh...(2)


Menebar Ilmu dan Amal
Dalam testimonial yang saya berikan untuk buku Cara Mudah Membangkitkan Gairah Menulis (penerbit Citra Budaya Indonesia, Oktober 2007) yang ditulis teman saya, Waitlem, saya mengatakan, “Menebar ilmu dan amal dengan menulis sudah saatnya dimulai dari sekarang. Sekali lagi, dari sekarang. Penulis tidak saja semakin dikenal dan kaya secara finansial, tetapi akan punya jejak yang panjang dan meneruka sejarahnya sendiri”
Ya, mulailah dari sekarang menulis. Malu dong, sudah sarjana, magister, dan/atau doktor, dan profesor, tak bisa memberikan kontribusi pemikiran, gagasan, untuk kemaslahatan orang banyak. Dan untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan pembangunan di negeri ini.
Karena Anda punya kompetensi di suatu bidang (atau mungkin beberapa bidang) keilmuan, maka dengan menjadi penulis sebenarnya Anda berarti telah menebarkan atau nemularkan ilmu dan pengalaman yang Anda miliki. Kalau ilmu dan pengalaman yang Anda tulis diambil manfaatnya bagi pembaca, maka secara tidak langsung Anda telah beramal.
Amal itu anggap saja suatu sedekah, sehingga sepanjang pembaca memetik manfaat dari apa yang Anda tulis, Anda gagas, maka mudah-mudahan sepanjang itu pula pahala yang Anda dapatkan dari Allah SWT. Sedekah tidak identik dengan memberikan sejumlah uang, lho! Bisa juga pemikiran.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya: “Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS Al Hajj{22}:50).
Pada surat An-An’am, Allah SWT berfirman: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) 10 kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS An-An’am {6}: 160).
Karena itu, barangkali, ada benarnya juga orang-orang yang menulis dikaruniai Allah SWT umur panjang. Tidak pikun, tidak stres sehat fisik dan finansial. Banyak penulis yang sekarang kita kenal, usianya di atas rata-rata dibanding yang bukan penulis. Untuk menyebut beberapa contoh, seperti Rosihan Anwar, usianya sudah 87 tahun. Beliau masih tageh, pikirannya masih jernih, ingatannya tajam. Hari Senin, 2 Maret 2009, masih bisa memberikan pemikiran tertulis sepanjang 14 halaman dalam diskusi tentang 100 Tahun Sutan Sjahrir. Begitu juga Pemimpin Umum KOMPAS, Jakob Oetama, yang kini sudah berusia 78 tahun.
Sepajang tahun 2009 hingga bulan Februari, setidaknya saya menghadiri undangan peluncuran dan bedah buku, memperingati usianya yang sudah 70 tahun, seperti Harmoko, Atmakusumah Sastraatmadja, Panda Nababan. Juga buku Syofyan Lubis (68).
Kenyataan yang tidak bisa dibantah; menulis itu membuat sehat pikiran, sehat badan, sehat finansial, dan tentu saja menjadi orang yang diperhitungkan, serta banyak amal. Amin. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar